Senin, 01 Agustus 2011

PUTRI. THE DISAPPEAR MEMORIES


Bingkai di depanku masih sangat abstrak. Ku coba terus goreskan warna-warna di pallet hijau, dan menyentuhnya dengan goresan terindah. Abadikan wajah itu, sebelum ku tak mampu mengingatnya….

∞∞

Lama waktu berjalan, di perjalanan detik-detik berlalu itu, sosok wanita ku kenal dengan indah. Mengisi segenap imajinasiku sebagai seorang seniman. Pagi itu setelah semua menjadi suram, segenap kekuatanku mulai ku coba tarik dengan mata imajiku. Yaitu kuas kecil bercorak hitam, ku gores kanvas putih hendak mengabadikan impian terindahku, sosok yang akan perlahan hilang dari sel-sel otakku.
Bingkai di depanku masih sangat abstrak. Ku coba terus goreskan warna-warna di pallet hijau, dan menyentuhnya dengan goresan terindah. Abadikan wajah itu, sebelum ku tak mampu mengingatnya….

Tiga puluh hari berlalu….
“Hai Putri,” sapaku pada sosok wajah tersenyum di kanvas berbingkai. Wajah cantiknya amat sangat ku kenal. “Aku harus pergi meninggalkan namamu dan kenanganmu,” ungkapku kembali menyentuh buah karya tanganku.

∞∞

Dua bulan kemudian...
Waktu-waktu terus berlalu, semerbak aroma pagi kian menyelimuti dunia. Tergoyah dahan pohon oleh desir angin sepoy, juga sahutan nyanyian burung yang terbang bebas menusuri langit biru. Sebuah bangunan bertuliskan ”Austria International Hospital”, Lelaki tengah duduk membawa lukisan berbingkai, menatap suguhan mentari yang perlahan terbangun dari persemayamannya. Seraya wajahnya linglung, menatap penuh kekosongan dunia yang tersenyum.
Dia Ame. Seorang seniman mudah dengan predikat luar biasa, kini ia seraya bayi yang tak mengerti apapun, duduk linglung mencoba menikmati hidupnya tanpa sebuah kenangan.

”Al- Zhaimer. Sebuah penyakit yang kian menghilangkan memory-memory yang ada pada otaknya.”