Menurut bahasa kata ta'jil ialah dari bahasa arab (عجل-تعجيل) yang berarti 'tergesa-gesa; bersegera'. (lihat: kamus al munawwir, edisi 2: 900). Sedangkan menurut istilah ialah menyegerakan untuk melakukan suatu hal dengan tidak menangguhkan nya. Pada konteks puasa ta'jil ialah menyegerakan berbuka ketika matahari sudah tenggelam (masuk maktu maghrib).
Ta'jil merupakan salah satu sunnah puasa. Karena Nabi telah mengajarkannya. Dalam beberapa riwayat kami mengutip dari Imam Nasa'i dengan derajat hadits Shahih:
"dari Abu 'Athiyyah dia berkata; aku dan Masruq masuk menemui 'Aisyah lalu kami berkata kepadanya; "Wahai Ummul Mukminin, ada dua sahabat Nabi shallallahu 'alaihi wasallam; salah seorang dari keduanya menyegerakan berbuka dan menyegerakan shalat, sedangkan yang lain mengakhirkan berbuka dan mengakhirkan shalat?" Ia bertanya; "Siapakah di antara keduanya yang menyegerakan berbuka dan menyegerakan shalat?" kami menjawab; "Abdullah bin Mas'ud." Aisyah berkata; "Demikianlah Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam melakukannya. (Riwayat Imam Nasa' i).
Ada suatu bagian dari ta'jil yang terkadang kita anggap remeh. Namun ternyata dibaliknya menyimpan suatu kegungan besar. Hal itu kami sebut dengan 'PPT', Para Pemberi Takjil.
Ketahuilah bahwa memberi ta'jil bukan-lah suatu tindakan yang memerlukan modal besar, namun sangat besar keutamaannya bila dibandingkan modalnya. Memberi ta'jil tidak harus sebuah makanan berat. Dalam salah satu riwayat Nabi Saw mengatakan 'sebiji kurma atau seteguk air' pun yang diberikan saat berbuka puasa kepada orang yang berpuasa sudah merupakan memberi ta'jil. Dengan kata lain, untuk mendapatkan label atau status PPT tak harus mahal. Tak harus bermodal besar. Terpenting, sesuai dengan kemampuan kita.
Lantas, apa saja yang menjadi keutamaan PPT? Berikut ulasannya:
1. Sang PPT diberi pahala sebagaimana pahala orang yang berpuasa, dan tanpa bekurang sedikitpun pahala puasanya.
Sebuah riwayat:
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ فَطَّرَ صَائِمًا كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهِمْ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْئًا. (رواه إبن ماجه، عن زيد بن خالد؛ بمرتبة 'صحيح')
Artinya:
"Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Barangsiapa memberi makan untuk berbuka orang yang berpuasa, maka ia akan mendapatkan pahala mereka tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun." (Riwayat Ibnu Majjah, dari Zaid bin Khalid dengan kedudukan hadits shahih). Hadits yang semisal juga diriwayatkan oleh imam Ahmad dan Ad-darimi.
2. Sang PPT diampuni dosa-dosanya serta pahalanya berupa jaminan kebebasan dirinya dari api neraka.
Rasulullah Saw bersabda:
قال رسول الله صلى الله عليه وسلم "يعطي الله هذا الثواب من فطّر صائما على تمرة او شربة ماء أو مذقة لبن وهو شهر أوّله رحمة وأوسطه مغفرة وأخره عتق من النار ومن خفّف عن مملوك غفر الله له وأعتقه من النار". (كتاب إرشاد العباد: ٣٦٩. راجا موراه فكالوغان).
Artinya:
Rasulullah Saw bersabda: "Allah akan memberikan pahala ini keepada orang yang memberi makan berbuka kepada orang yang berpuasa (meskipun hanya) berupa kurma atau seteguk air terlebih berupa susu. Dan ramadhan ialah bulan dimana awalnya adalah rahmat, pertengahannya ialah ampunan Allah dan akhirannya ialah pembebeasan dari neraka." (Kitab Irsyadul Ibad, hal: 269. Terbitan Raja Murah Pekalongan).
3. Sang PPT akan diberi Allah minum dari air telaga Nabi, yang menjadikannya tidak akan dahaga selama-lamanya.
Dalam riwayat:
"من سقى صائما سقاه الله من حوضى شربة لا يظمأ بعدها ابدا." (كتاب إرشاد العباد: ٣٧٠ . راجا موراه فكالوغان).
Artinya:
"barang siapa yang memberi minum orang yang berpuasa maka Allah Swt akan memberi minum kepadanya dari telaga ku sehingga ia tidak dahaga selama-lamanya." (Kitab Irsyadul Ibad, hal: 270).
4. Sang PPT akan dimintakan ampunan oleh para Malaikat serta diberi sambutan salam oleh sang komandan para malaikat (Jibril A.S).
Dalam sebuah riwayat:
"من فطّر صائما فى شهر رمضان من كسب حلال صلّت عليه الملائكة ليالى رمضان كلّها وصافحه جبريل عليه السلام ليلة القدر ومن صافحه جبريل عليه السلام سرقّ قلبه وتكثر دموعهه" . (كتاب إرشاد العباد: ٣٧٠-٣٧١ . راجا موراه فكالوغان).
Artinya:
"Barangsiapa memberi makan buka puasa kepada orang yang berpuasa di dalam bulan ramadhan, maka para malaikat memintakan ampun atasnya disetiap malam ramadhan dan malaikat Jibril AS bersalaman padanya pada malam Lailatul Qadr. Dan barang siapa yanh disalami oleh Jibril AS maka (tandanya) akan lembut hatinya dan banyak menangis (beribadah dan ubudiyyah kepada Allah Swt)." (Irsyadul Ibad: 370-371).
Dari keseluruhan keagungan yang di dapat PPT, akan menjadi sia-sia jika tidak memenuhi syarat kualifikasinya. Ada beberapa syarat menjadi PPT dan mendapatkan 4 keagungan di atas, beberapa syarat itu ialah sebagai berikut:
Pertama: Registrasikan diri anda sebagai peserta PPT.
Semua keagungan di atas merupakan fasilitas yang diberikan Allah Swt kepada peserta PPT. Sama halnya jika kita ingin menikmati fasilitas jaminan kesehatan, maka kita harus mendaftarkan diri sebagai peserta jaminan kesehatan tersebut. Atau kita masuk pada wisata hiburan wahana, tidak akan bisa menikmati wahana-wahana yang disediakan jika kita tidak meregistrasikan diri dengan membeli tiket masuknya.
Lantas bagaimana mendaftarkan diri sebagai peserta PPT? Sederhana, yakni dengan berpuasa. Status puasa seseorang merupakan hak miliknya untuk turut serta menjadi PPT. Dia akan mendapatkan semua keagungan itu jika ia merupakan orang yang berpuasa. Lalu bagaimana dengan yang tidak berpuasa namun dia memberi ta'jil? Maka apa yang ia lakukan bagaikan bermodal satu juta untuk mendapatkan profit satu juta, akan tetapi, ia malah mengalami kerugian 3 milyar. Mengapa demikian? Karena seseorang yang meninggalkan puasa ramadhan sehari saja tanpa udzur (tidak ada alasan yang dibenarkan agama, seperti sakit atau musafir) maka puasa setahun-pun tidak bisa menutupi atau melunasi sehari yang ditinggalkan tersebut.
Sebuah riwayat, dari Abi Hurairah Nabi bersabda:
"Barangsiapa yang tidak berpuasa sehari dari bulan ramadhan, dengan tanpa ada alasan yang dibenarkan Allah padanya, tidak dalam keadaan sakit, maka tidak dapat menutupinya sekalipun ia berpuasa setahun." (Riwayat Abu Dawud, Nasa'i, Turmudzi, Baihaqi, Ibnu Majah dan Huzaimah. Dari Abu Hurairah).
Bahkan Syaikh Zainuddin Al-Maybari mengatakan, kebanyakan ulama berpendapat bahwa meninggalkan puasa ramadhan sehari, maka wajib hukumnya untuk mengqada'nya dengan berpuasa sebanyak 3 ribu hari. (Irsyadul Ibad, hal: 323). Karenanya jika kita kembalikan, seseorang yang ikut serta PPT tapi berstatus tidak berpuasa maka ia seperti mengalami kerugian 3 milyar dari modal 1 jutanya.
Kedua, ikhlas.
Ikhlas adalah keniscayaan yang mutlak dimiliki oleh hamba yang beramal. Karena semua amal wajib di dasari keikhlasan, Itulah syarat wajib diterimanya amal (Lihat, QS. 98: 5). Sang PPT pun demikian, harus didasari niat yang tulus ikhlas karena mengaharap ridlo Allah Swt, agar semua fasilitas (bonus) tadi diberikan padanya. Jika terselip sedikit saja dalam hatinya ketidak ikhlasan, seperti pencitraan, agar dianggap orang kaya, agar dianggap dermawan dan sosialis, maka lebur semua amaliyahnya dan rusaklah keimanannya.
Rasulullah Bersabda:
"Barangsiapa yang mencari dunia dengan amal akhirat, maka Allah Ta'ala akan menghapus wajahnya dan melebur sebutan baiknya dan menetapkan namanya di dalam neraka." (Kitab Toriqah Ilallah. Hal: 106).
Ketiga, dari harta yang halal.
Beramal baik tapi dengan instrumen atau media haram ialah seperti mensucikan baju dengan air najis. Sia-sia dan tidak berguna. PPT yang memberikan makanan kepada orang yang berpuasa, namun dari harta yang dia dapatkan dengan cara tidak baik, seperti mencuri, merampok, korupsi, menipu dan lain sebagainya maka semua amalnya akan sia-sia. Dan tidak akan diberikan pula fasilitas PPT padanya.
Keempat, makanan yang diberikan ialah makanan yang halal lagi baik, bukan makanan yang haram dan berbahaya bagi kesehatan.
Jika harta yang diberikan adalah harta yang didapatkan dari jalan yang dibenarkan, maka rupa makanan atau minumannya juga harus yang dibenarkan agama. Makanan dan minuman yang dibenarkan agama ialah makanan dan minuman yang halalan toyyiban (halal lagi baik), bukan makanan dan minuman yang haram seperti: babi, anjing, binatang yang menjijikkan, daging bangkai, khamr, darah, nanah dan air kencing. Atau makanan dan minuman yang berbahaya seperti: makanan basi, kadaluwarsa, racun dan lain sebagainya. Maka semua itu tertolak.
Allah Swt berfirman:
"Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan; karena sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu." (Al-Baqarah: 168)
Kelima, sesuai kemampuannya.
Allah Swt sangat menyukai suatu hal yang sesuai porsinya. Karena itu Islam diturunkan dengan fleksibelitasnya. Makan, minum, ibadah, bahkan shodaqoh islam menganjurkan sesuai porsi kemampuannya.
Allah berfirman:
Katakanlah: "Hai kaumku, berbuatlah sepenuh kemampuanmu, sesungguhnya akupun berbuat (pula). Kelak kamu akan mengetahui, siapakah (di antara kita) yang akan memperoleh hasil yang baik di dunia ini. Sesungguhnya orang-orang yang zalim itu tidak akan mendapatkan keberuntungan." (QS. Al-An'am: 135)
Prof. Quraisy Shihab menjelaskan prihal pemberian. Dalam pemberian, seseorang tidak ada tekanan, sesuai kemampuan. Setidaknya jika bukan sesuatu yang terbaik, maka janganlah sesuatu yang terburuk yang diberikan. Jika kita mampu memberi makanan pokok berupa nasi bungkus atau nasi kotak, maka itu sangat bagus. Jika kita tidak mampu, cukup makanan yang disunnahkan ialah air dan kurma. Mengenai kuantitas, itu sesuai kemampuan para PPT. Bisa untuk 10, 100, 1000 atau 10.000 orang. Semakin banyak kuantitas, maka semakin berlipat-lipat keagungan keutamaannya.
Itulah lima syarat kualifikasi menjadi PPT. Jika lima syarat tersebut dipenuhi, maka Allah Swt akan memberikan 4 keagungan PPT sebagaimana yang telah diulas diatas.
Catatan terakhir, berlomba-lombalah dalam hal kebaikan. Dan jangan meremehkan hal yang sederhana, karena bisa jadi yang sederhana tersebut menyimpan suatu hal yang agung dibaliknya.
Maka dengan demikian ikhwan, jangan lagi menjadi 'Para Pemburu Takjil', naiklah jabatan menjadi SANG PPT, yaitu 'Para Pemberi Takjil'.
Semoga Bermanfaat...
-Agus Syairofi-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar